Melangkah!

walk-alone4

2 tahun belakangan ini aku telah hanyut dalam harapan, impian dan angan kosong. Mungkin sudah saatnya aku kembali melangkah mendaki terjalnya kehidupan dan kembali mengalir seperti air.

Tidak lagi bertahan untuk harapan yang tak pernah ada. Tidak lagi menunggu angin yang telah berlalu. Selagi aku masih bisa berdiri, aku akan melangkah bahkan jika bisa aku ingin berlari.

Jika hari ini aku pergi pun mungkin Ia tidak akan menyadarinya karena aku bukanlah siapa-siapa untuknya, bukan yang dipikirkanya dan bukan yang diharapkannya. Aku berjanji tidak akan kembali menoleh kearahnya.

Mungkin ini akan sangat menyakitkan. Tapi, biarkanlah hari ini aku merasakan sakit yang sangat mendalam tapi aku yakin esok atau lusa sakit karena luka ini akan hilang. dan Biarkanlah Ia menjadi bagian dari kenanganku.

***

Terimakasih ya Rahman, atas rasa cinta yang Kau titipkan di hati ini, atas nikmat yang Kau beri.

Terimakasih ya Wahab,
yang telah mengabulkan banyak do’a dan harapan, juga mengganti beberapa harapan dengan hal yang lebih indah.
Sungguh indah semua ketentuanMu.


Kamar Kecil Tercinta – Asrama Puteri FKK UMJ. Jakarta, 09 Januari 2016 01.46 AM

Advertisements
Posted in Coretan Tinta Syifa | Tagged , , | Leave a comment

Berikanlah Aku Satu Senyuman

Bagaimana harimu?

Entah mengapa, ketika langit berubah menjadi gelap, saat itu aku kembali mengangkat kepala untuk menatap langit.

Betapa banyak pertanyaan dan harapan yang berputar dikepalaku, namun tak kunjung terjawab. Saat ini, aku berharap kita dapat tersenyum cerah bersama, tapi kita berdua hanyalah orang asing. Padahal dalam setiap senyumanmu, disanalah duniaku.

Hari ini, lagi-lagi seperti orang bodoh aku duduk disini menunggumu. Namun aku bahagia, ketika aku berbalik kebelakang aku mendapatimu berdiri disana dan saat itulah aku berani untuk tersenyum.

Kamu adalah orang pertama yang membuatku gugup, hanya kamu seorang. Kamu terlihat tampan dibanding siapapun, tapi mengapa kamu tidak melihatku?

Mungkin bagimu aku bukan siapa-siapa, hanya seseorang yang kamu kenal. Sebenarnya dengan hal itu pun aku cukup, tidak ada harapan lebih karena hanya alasan cinta.

Dan mungkin kamu adalah satu-satunya orang yang tak bisa melihatku meskipun aku melihatmu, satu-satunya orang yang tak bisa mendengarku meskipun aku memanggilmu.

Tapi, hatiku tidak bisa membiarkanmu pergi.

Padahal setiap detik dan menit ini sangat menyakitkan untukku. 😦

Dimasa yang akan datang, berikanlah aku satu senyuman.

Sekali saja, tolong.


Kamar kecil tercinta 516 – Asrama Putri FKK UMJ 01.22 AM

Posted in Coretan Tinta Syifa, Inspiratif | Leave a comment

Menjenguk Kenangan

Apakah matahari sudah terbenam? Samar-samar mataku melihat, kamar ini memang terang sangat terang. Namun, aku tahu bahwa cahaya terang itu berasal dari lampu bukan dari matahari atau bukan dari yang membuat aku bisa membedakan apakah hari masih siang atau sudah malam.

Aku selalu senang saat mendapati langit sudah berubah warna menjadi hitam pekat, matahari mulai meninggalkan bumi yang digantikan oleh bulan dan bintang-bintang, artinya aku akan segera bertemu dengannya untuk menjenguk kenangan.

Kulemparkan pandanganku pada bintang yang tak henti-hentinya tersaji dengan indah. Dengan sebuah keniscayaan yang tak layak diabaikan oleh mata. Hari ini, aku kembali mengembara dalam ingatanku, berlama-lama menatap langit untuk menikmati cahaya bintang dimanapun, ku sentuh jendela dan seakan aku bisa menyentuh cahayanya. Cahaya bintang itu menyerupai cahaya wajahmu yang selalu bersinar terang disetiap hariku.

Tepat dibawah langit yang sama aku mengenangmu. Teringat dahulu, kamu disana memainkan gitarmu. Diam-diam semua gerak-gerik konyolmu selalu aku rekam dalam ingatan dan hatiku. Setiap hal kecil tentangmu tak ada yang aku lewatkan. Ah… seandainya kamu tahu aku selalu memperhatikanu, tentu aku akan sangat malu.

Dan kamu tahu? Aku selalu menunggu post yang kamu unggah di media sosial. Sebab darimana lagi aku dapat mengetahui tentang apa yang sedang kamu pikirkan bila tidak dari sana. Kita tidak pernah bercakap, sekedar untuk bersapa pun tidak, aku tidak mampu untuk melakukan itu. Lidahku terasa kelu dan hatiku terisi kata-kata yang tidak bisa terucapkan. Seperti orang bodoh, aku menelan kata-kataku dalam hatiku.

Apa boleh aku mengatakan bahwa semua yang aku lakukan itu karena hatiku yang mencintaimu? Entahlah… Aku menapaki langkah satu per satu, aku raba dengan tangan hampa, menjejaki setiap petaknya. Hingga aku tiba pada sebuah langkah yang mau tidak mau harus dilewati. Sesekali aku merasa banyak lensa yang mulai mengecup. Berbagai kata pun hadir. Aku ingin bertanya, apakah kamu tahu mengenai cintaku yang kikuk ini?

Aku berharap suatu saat kamu akan mengetahuinya dengan caramu sendiri.

Berdirilah di depanku ketika hatimu telah mengarah kepadaku. Aku akan menunggumu. ^.^


Jakarta, 19 Agustus 2015

Salah satu tulisan dalam buku “Something I’m Waiting For” ISBN : 978-602-72920-4-8 Diterbitkan Oleh: Mazaya Publishing House

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Polaris yang Tergantikan

Hey polaris…

Hari ini, aku ingin kembali bercerita… tadi malam, aku bertemu dengan bintang yang jauh lebih bersinar di bandingkan kamu. Sebelumnya, aku ingin memohon maaf, mungkin dengan ini fokusku akan berbagi.

Yaa.. seperti yang aku katakan sebelumnya “mungkin suatu saat nanti, ini akan pudar” dan aku rasa ini saatnya aku memudarkannya. Dan aku yakin, kamu juga tahu apa yang menjadi alasanku melakukan ini. 😦

Bintang itu telah mengajarkan aku banyak hal, dari bagaimana seharusnya aku bersikap, dia juga mengajarkan aku tentang keseimbangan antara agama dan scince.

Sebenarnya kami tidak banyak berbincang dan dia pun tidak banyak mengeluarkan kata dari mulutnya tetapi itu sukses membuat mulutku bungkam. Dan tepat pada hari ini, aku bertekad untuk mengganti posisimu dengannya.

Maafkan aku polarisku 😦

Ini akan terkesan bahwa aku labil dan egois, tidak apa-apa aku bisa menerima itu semua. Karena, aku mengganti posisi itu dengan bintang yang sinarnya jauh lebih indah. Hal itu yang memutuskan aku untuk berpaling dari polaris yang sudah menjadi paru-paru bagi setiap nafasku dengan bintang yang akan menjadi jantung dalam dalam kehidupanku ini.

Bismillahirrahmanirrahiim… Selamat tinggal polaris dan selama datang bintang! 🙂


Syifa Nurhakiki – Jakarta, 23 mei 2015

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Untukmu Aku akan Menunggu

Hey apa kabar? Ingin rasanya pertanyaan itu aku lontarkan dengan langsung, tapi semua itu tidak memunginkan! Terlalu sulit untuk menanyakannya, lagipula seharusnya aku bercermin. Memangnya siapa aku?

Aku hanya mampu menanyakan itu kepada yang mengenalmu dengan baik, yakni Allah SWT., memang tidak ada jawaban langsung, tapi setidaknya itu membuat perasaanku tenang karena aku meminta sang penguasa kehidupan untuk tetap memberikan yang terbaik untukmu.

Hari ini, aku hanyut ke dalam ingatanku, aku berputar seputar ini sampai akhir. Aku memohon, ingin rasanya aku melihatmu, melihat cahaya polaris yang sangat indah itu. Ini tidak bisa jika bukan kamu, aku tidak masalah jika aku terluka untuk sehari atau bahkan tahun seperti ini. Bahkan jika hatiku terluka, itu karena aku mencintai polaris.

Cinta ini tidak dapat dilupakan, tapi mungkin suatu saat bisa berubah dengan sendirinya. Aku merindukanmu, hanya merindukanmu. Ini karena perasaanku tumbuh terlalu besar. Seperti saat pertama kali kita bertemu, tidak ada cinta yang disesali dihatiku yang telah mati.

Hatiku yang sakit, berteriak agar bisa bertemu dengamu. Kamu dimana? Apakah kamu mendengar teriakanku di atas sana?


Syifa Nurahakiki – Kamar Asrama FKK UMJ

Posted in Coretan Tinta Syifa, Inspiratif | Leave a comment

Padamnya Cahaya Polaris

Malam itu aku melihat di langit ada polaris, dia tidak sendiri melainkan ada banyak bintang yang jauh lebih bersinar dari polarisku. Banyak orang yang mengelu-elukan bintang-bintang itu, tapi tidak denganku. Tujuanku hanya ingin melihat polaris bukan yang lain.

Tapi mengapa aku tidak melihat cahaya polarisku seperti biasanya? ada apa?. Ingin rasanya aku menayakan hal tersebut, namun aku tak mampu melakukannya. Sejujurnya, malam itu aku merasa sangat sedih karena tidak bisa melihat terangnya cahaya polaris seperti biasanya 😦

Kita akan sangat sulit untuk bertemu, namun aku hanya akan menyampaikan sedikit pesan “Tetaplah pancarkan cahayamu walau tidak banyak orang melihatmu, walau tidak semua orang menyukai cahaya itu, jadilah seperti matahari yang tetap setia memberi sinar kehidupan untuk berjuta-juta manusia, walaupun terkadang banyak manusia yang mencaci karena sinarnya terlalu panas.”

Aku akan tetap berdiri disini untuk menunggumu… Tidak peduli berapa malam yang harus aku lewati, aku hanya ingin melihatmu datang dengan cahaya yang sebenarnya 🙂


Kamar tercinta – Asrama Puteri FKK UMJ

Posted in Coretan Tinta Syifa, Inspiratif | Leave a comment

Ikatanku Pengikat Hatiku

Ruang hatiku ini sangat sesak, menemani wajah yang murung, mungkin bukan murung, ini wajah khawatir. Detak jantung ini begitu cepat, begitu berirama tetapi sangat menyesakkan. Sesak akan kekhawatiran karena berbagai hal.

Aku seperti menggenggam pasir dengan sangat kuat, terlalu kuat dalam genggaman sehingga pasir itu meluruh. Aku takut, jika banyak orang menyebut namamu, itu hanya akan berlalu saja dalam pikiranku. Tak sedikit dengan kehadiranmu itu mampu membuat memori dalam ngatanku menari-nari setiap namamu tterdengar inderaku.

Aku khawatir, jika dalam perjalanan bersama ini, hati mulai kehilangan nilai untuk memaknai indahnya kebersamaan, aku khawatir jika di masa depan aku tak berhasil menemuinya, bahkan sekadar mendapatkannya dalam kepingan memori ingatan.

Aku berharap, aku dapat terus bersamamu dan aku ingin kamu pun rela untuk tetap bersamaku, berada di dalam hati dan dalam tindakanku, kemudian kita menjalani semua ini dalam gelombang keikhlasan.

Bukan, ini bukan kamu. Tapi aku yang harus tetap belajar untuk ikhlas dalam gerak dan langkah ber-IMM. Hingga kelak aku dapat melabuhkan perahu juang ini pada darmaga keridhoan Allah SWT.

Aku yakin, jika aku dalam perjalanan ini, kamu akan mampu membawaku ke tempat yang sangat indah yang setiap insan yang beriman memimpikan tempat itu (syurga). Aku ingin menemanimu sampai nyawaku tak lagi dalam raga, yang aku tahu ini adalah pencapaian besar episode dalam skenario dunia. Sungguh, itu merupakan salah satu doaku yang setiap hari aku panjatkan untuk mengetuk pintu langit. Aku ingin terus bersamamu, memaknai kehadiranmu dengan pemaknaan yang sangat tinggi.

Untuk kekasih yang dua tahun belakangan ini telah bersemanyam di dalam hatiku, teruslah panjangkan akarmu hingga mampu menjejakkan dalam sudut hati. Teruslah ikat hati ini, agar aku tak pernah rela untuk membiarkanmu pergi. Dan kunci matilah agar kamu tetap dalam detak kehidupanku. Bertahanlah semampumu untuk tetapmenjadi penguat ketika serdadu mulai menyeruak.

Bertahanlah, hingga aku dapat mencintaimu tanpa alasan dunia. Karena ini bukan untuk siapa-siapa. Sungguh, semua tentang dakwah amar ma’ruf nahi munkar, semua tentang amanah K.H. Ahmad Dahlan dan amanah Nabi Muhammad SAW.


Ciputat – Kamar kecil tercinta at Asrama putri FKKUMJ

Posted in Coretan Tinta Syifa, Inspiratif | Tagged , , | 3 Comments